Jumat, 22 April 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN USAHATANI DI UKUR DARI PRODUKSI YANG DIHASILKAN DALAM KEGIATAN USAHATANI PADI SAWAH (Oryza sativaL) DI DUSUN GIRIREJO KELURAHAN LEMPAKE KECAMATAN SAMARINDA UTARA KOTA SAMARINDA

I.                  PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Pengembangan pertanian sudah selayaknya berorientasi pada Resources base, yang berarti bahwa kedudukan sumberdaya alam pada suatu wilayah merupakan titik sentral perencanaan dan pelaksanaan. Evaluasi terhadap keberadaan suatu wilayah serta lokasi pengembangan berdasarkan agroekosistem, kesesuaian lahan dan potensi/peluang pasar dilakukan dalam penentuan prioritas komoditas dan alternatifnya (Badan Pusat Statistik, 2007).
Pembangunan pertanian perlu dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan wilayah atau komoditas pertanian yang dikembangkan berdasarkan kesesuaian lahan/lokasi dan pendekatan agribisnis berbasis dipedesaan.
Kegiatan usahatani merupakan kegiatan produksi (input) untuk menghasilkan suatu produk (output) dimana kegiatan usahatani tidak terlepas dari penggunaan faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk yang kemudian dijual (ditawarkan) kepasaran untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan usahatani tersebut.
Penawaran produk pertanian menyatakan hubungan jumlah produk pertanian yang ditawarkan dengan berbagai variabel yang mempengaruhi penawaran seperti teknologi, harga input, harga produksi komoditas lain, jumlah produsen, harapan produsen dan tujuan dari usahatani itu sendiri dianggap konstan/tetap (Moehar Daniel,2004).

Menurut Mayers (1989), penawaran merupakan suatu skala jumlah sesuatu benda yang ditawarkan pada sejumlah harga pada saat tertentu atau selama periode tertentu, ditambahkan Gilarso (1989), penawaran adalah jumlah dari suatu barang tertentu yang akan dijual pada berbagai kemungkinan harga untuk jangka waktu tertentu.
Hukum penawaran menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, makin banyak jumlah barang tersebut yang akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang makin sedikit jumlah barang yang ditawarkan oleh para penjual.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usahatani meliputi faktor intern dan faktor ekstern diantaranya adalah: faktor-faktor pada usahatani itu sendiri (intern) seperti; petani pengelola, tanah usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi, kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga dan jumlah keluarga, faktor-faktor diluar usahatani (ekstern) antara lain; tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain) serta sarana penyuluhan bagi petani.  
Secara sektoral, sektor pertanian terdiri dari sub-sektor pertanian tanaman pangan, sub-sektor perkebunan, sub-sektor peternakan, sub-sektor perikanan, dan sub-sektor kehutanan. Dari semuanya, sub-sektor pertanian tanaman pangan khususnya padi merupakan penghidupan bagi sebagian besar penduduk indonesia. Komoditas hasil pertanian utamanya beras juga sangat berperan penting dalam memantapkan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, kestabilan ekonomi dan kestabilan politik (Adiratma, 2004).
Padi merupakan salah satu komoditi penting di sektor pertanian di Indonesia. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia yang sebagian besar mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Sedemikian besarnya kebutuhan masyarakat akan padi membuat tanaman padi menjadi komoditas yang terus diusahakan budidayanya. Semakin lama jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah banyak, sehingga diperlukan tambahan luas lahan untuk usahatani padi di Indonesia guna memenuhi kebutuhan akan padi yang juga semakin meningkat. 
Sebagai sumber karbohidrat yang paling utama, beras merupakan komoditi pangan yang penting peranannya bagi pemerintah maupun rakyat indonesia. Beras dikonsumsi oleh hampir seluruh rakyat indonesia, terhitung bahwa partisipasi konsumsi beras mencapai 96,87%. Beras masih merupakan porsi terbesar dalam pengeluaran rumah tangga, terutama penduduk yang miskin. Diperkirakan 70% dari pengeluaran rumah tangga penduduk miskin dibelanjakan untuk pangan, sedangkan pengeluaran untuk beras diperkirakan mencapai 25% dari total pengeluaran rumah tangga (Pranolo, 2000).
   Dusun Girirejo merupakan salah satu daerah di Kelurahan Lempake yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Pada wilayah Dusun Girirejo komoditi tanaman utama adalah padi sawah dengan luas tanam 200,00 ha dengan jumlah produktivitas 5,00 ton/ha (Data Monografi Kelurahan Lempake,2008).
Berdasarkan laporan tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Timur pada tahun 2003-2007 untuk Kota Samarinda pemenuhan konsumsi tanaman padi mengalami fluktuasi. Pada tahun 2003 jumlah produksi siap konsumsi untuk tanaman padi sebesar 13.125 ton dan mengalami peningkatan produksi siap konsumsi tanaman padi pada tahun 2004 sebesar 14.779 ton dari jumlah produksi 25.520 ton namun pada tahun 2005 produksi siap konsumsi tanaman padi mengalami penurunan sebesar 11.659 ton dari jumlah produksi 20.105 ton sedangkan pada tahun 2006-2007 mengalami peningkatan sebesar 15.515-16.312 ton dari jumlah produksi 26.755-28.130 ton (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Timur,2007).
Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran Beras Di Tingkat Petani Di Dusun Girirejo  Kelurahan Lempake Kota Samarinda”.
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka yang menjadi masalah dalam penulisan ini adalah:
1.      Berapa produksi dan besar tingkat pendapatan petani padi sawah ( dalam bentuk beras) di Dusun Girirejo?
2.      Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penawaran beras ditingkat petani di Dusun Girirejo?
1.3.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1.             Mengetahui produksi dan tingkat pendapatan petani padi sawah (dalam bentuk beras) di Dusun Girirejo
2.             Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran beras di tingkat   petani di Dusun Girirejo.
1.4.Manfaat Penelitian
1.             Melatih peneliti untuk dapat berpikir secara praktis, sistematis dan ilmiah.
2.             Bahan informasi bagi petani padi sawah dalam mengelola hasil panen padi berupa gabah dan beras.
3.             Bahan informasi dan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan dan mengembangkan penelitian ini.
4.             Sebagai sumbangan pemikiran bagi pembuat kebijaksanaan atau pemerintah dalam strategi pengembangan pertanian.

 




























II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Harga
Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat memiliki atau menggunakan produk yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar-menawar atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli (Umar, 2003).
Adam Smith dalam Gilarso (1992), mengemukakan bahwa harga suatu barang ditentukan oleh biaya produksinya. Dalam masyarakat yang masih sederhana, nilai tukar atau harga suatu barang terutama ditentukan oleh banyak sedikitnya tenaga kerja manusia yang telah dicurahkan untuk menghasilkan barang tersebut. Tetapi dalam masyarakat yang lebih maju, biaya-biaya produksi lain ikut diperhitungkan juga, seperti upah tenaga kerja, biaya bahan-bahan, sewa tanah, bunga, modal, dan penyusutan.
Alfred Marshall dalam Gilarso (1992), menyatakan bahwa terjadinya nilai dan harga itu tidak ditentukan sepihak oleh produsen atau konsumen saja. Harga ditentukan oleh dua pihak tersebut secara bersama-sama, yaitu dalam interaksi antara produsen dan konsumen, atau dengan istilah lain penawaran (supply) dan permintaan (demand) bersama-sama. Biaya produksi memegang peranan penting karena merupakan dasar untuk penentuan harga jual.
Dalam hal komoditi pertanian, khususnya komoditi pertanian yang menyangkut orang banyak, harga sering diatur oleh pemerintah. Untuk meningkatkan upaya produktivitas, maka pemerintah membuat kebijakan perangsang produksi. Kebijakan perangsang berproduksi ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu kebijakan harga dan non harga (Daniel,2001)
Menurut Mubyarto (1994), suatu barang mempunyai harga karena dua sebab yaitu : barang itu berguna dan barang itu jumlahnya terbatas atau sering disebut dengan barang ekonomi, yang dalam ilmu ekonomi dinyatakan barang tersebut mempunyai permintaan (karena barang yang bersangkutan berguna) dan penawaran (karena jumlahnya terbatas). Jadi harga berhubungan dengan permintaan dan penawaran, yaitu apabila harga naik maka permintaan akan berkurang atau barang yang ditawarkan bertambah, sedangkan bila harga turun maka permintaan akan bertambah atau barang yang ditawarkan berkurang.
Gilarso (2002) mengemukakan bahwa secara umum guna membela produsen serta untuk melindungi para konsumen, pemerintah mengawasi, mengatur serta mengarahkan bekerjanya sistem pasar dan mengendalikan harga yang terbentuk di pasar yaitu dengan menyelenggarakan prasarana-prasarana yang perlu agar sistem harga bisa berfungsi dengan baik.
2.2. Tinjauan Umum Penawaran
Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada  suatu  pasar  tertentu,  pada  periode  tertentu,  dan  pada  tingkat  harga tertentu. Secara spesifik, penawaran menunjukkan seberapa banyak produsen suatu barang mau dan mampu menawarkan perperiode pada berbagai kemungkinan tingkat harga, hal ini di asumsikan konstan (wikipedia indonesia, 2008). Menurut Sadono (2002), hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa Semakin tinggi harga  suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh  para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan”.
Pada Gambar 1. Menunjukkan bahwa kurva penawaran ternyata naik dari kiri bawah ke kanan atas, ini menunjukkan bahwa antara harga dan jumlah barang berjalan dengan arah yang sama, maksudnya apabila harga naik maka jumlah barang yang ditawarkan juga naik, tetapi sebaliknya apabila harga turun maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun.
               Harga (P)










                        Gambar 1. Kurva penawaran  Q Jumlah Barang (unit)

2.2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usahatani
            Usahatani merupakan usaha dari suatu kesatuan antara kerja, modal, dan pengelolaan yang ditujukan untuk memperoleh produksi dilapangan pertanian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pembinaan usahatani, yaitu:
1.                  Organisasi usahatani, dengan perhatian khusus kepada pengelolaan unsur-unsur produksi dan tujuan usahanya.
2.                  Pola kepemilikan tanah usahatani.
3.                  Kerja usahatani, dengan perhatian khusus kepada pengelolaan unsur-unsur produksi dan tujuan usahanya.
4.                  Modal usahatani, dengan perhatian khusus kepada proporsi dan sumber petani memperoleh modal.
Menurut Hernanto (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani adalah faktor intern dan faktor ekstern diantaranya adalah:
1.      Faktor-faktor pada usahatani itu sendiri (intern)
Seperti telah diungkapkan pada pengenalan terhadap usahatani, terlihat faktor-faktor antara lain : petani pengelola, tanah usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi, kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga dan jumlah keluarga.
2.                  Faktor-faktor diluar usaha tani (ekstern)
Faktor-faktor di luar usahatani yang dapat berpengaruh terhadap berhasilnya suatu usahatani antara lain adalah:
a.       Tersedianya sarana transportasi dan komunikasi
b.      Aspek-aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain)
c.       Sarana penyuluh bagi petani
Menurut Suratiyah (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya biaya dan pendapatan adalah:
1.                  Faktor internal dan eksternal
Faktor internal dan eksternal saling mempengaruhi biaya dan pendapatan diantaranya faktor internal terdiri dari: umur, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan  keterampilan, jumlah tenaga kerja keluarga, luas lahan dan modal. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari keseterdiaan dan harga.
2.      Faktor manajemen
Disamping faktor internal dan eksternal maka manajemen juga sangat menentukan. Dengan faktor internal tertentu maka petani harus dapat mengantisipasi faktor eksternal yang selalu berubah-ubah dan tidak sepenuhnya dikuasai. Petani sebagai manajer harus dapat mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan ekonomis sehingga diperoleh hasil yang memberikan pendapatan optimal.
2.3. Biaya Produksi
Menurut Soekartawi (1990), istilah faktor produksi sering pula disebut dengan korbanan produksi, karena faktor produksi tersebut dikorbankan untuk menghasilkan produksi. Faktor produksi tersebut berupa lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.
Biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi, atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai. Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan dengan besarnya produksi, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, pupuk, dan sebagainya (Daniel, 2002).
Menurut Soekartawi (1987), biaya produksi adalah nilai semua faktor produksi yang digunakan baik dalam bentuk barang atau jasa selama produksi berlangsung. Biaya tersebut terdiri atas sewa tanah, bunga modal, biaya sarana produksi untuk benih, pupuk, pestisida dan sejumlah tenaga kerja. Menurut Mosher (2002), biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai. Biaya yang dikeluarkan oleh seorang petani dalam proses serta membawanya menjadi produk disebut biaya produksi. Termasuk didalamnya barang yang dibeli dan jasa yang dibayar di dalam maupun di luar usahatani. Di dalam jangka pendek, satu kali produksi dapat dibedakan biaya tetap dan biaya berubah (Hernanto,1996).
2.4. Penerimaan
Menurut Boediono (2002), menambahkan penerimaan adalah penerimaan produsen dari sejumlah produksi tertentu yang diterima atas penyerahan sejumlah barang pada pihak lain. Menurut Mosher (2002), bahwa penerimaan dibidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang tunai sebelum dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani. Menurut Hernanto (1996), penerimaan usahatani adalah penerimaan dari sumber usahatani meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil dan penggunaan rumah tangga yang dikonsumsi. Penerimaan usahatani akan mendorong petani untuk mengalokasikannya dalam berbagai kegunaan seperti untuk biaya periode selanjutnya, tabungan dan pengeluaran lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Secara umum petani mengharapkan keuntungan dan penerimaan akan lebih besar dari biaya tunai yang telah mereka keluarkan.
Menurut Kamaruddin (1982), ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperbesar penerimaan antara lain :
1.                  Memperbesar sumber-sumber yang dapat dipakai, sumber tersebut adalah sumber produksi.
2.                  Meningkatkan efisiensi untuk setiap penggunaan faktor produksi.
3.                  Mengubah lingkungan sosial kultural, sehingga sumber-sumber produksi dapat ditambah dengan hasil yang memuaskan.
Penerimaan usahatani menurut Sudarsono (1995), dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
TR = P . Q
Keterangan:
TR = total penerimaan (total revenue);
P    = harga jual (price);
Q   = jumlah (quantity).
2.5. Pendapatan
Menurut Mosher (2002), pada bidang pertanian pendapatan merupakan produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang setelah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani. Menurut Daniel (2002), Pendapatan adalah hasil bruto dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk biaya usahatani seperti bibit, pupuk, obat-obatan, biaya pengolahan tanah, upah menanam, upah pemeliharaan dan biaya panen.
Menurut Boediono (1985), menyatakan pendapatan dibagi dua bagian sebagai berikut:
1.                  Pendapatan kotor usahatani yaitu nilai total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik dijual maupun tidak dijual atau dalam istilah lain adalah nilai produksi penerimaan kotor usahatani.
2.                  Pendapatan bersih usahatani yaitu selisih antara pendapatan kotor usahatani dan biaya produksi sebagai upah buruh, pembelian pupuk, bibit, dan obat-obatan yang digunakan dalam usahatani.
2.6. Tinjauan Umum Padi Sawah
2.6.1.  Syarat Tumbuh  Tanaman Padi

Tanaman padi (Oryza  sativa L.) merupakan tanaman semusim dan termasuk dalam suku  padi-padian (Graminae,  sinonim  Glumiflorae,  sinonim Poaceae). Padi tersebar  diseluruh   dunia   dan   tumbuh di hampir  semua  bagian dunia yang memiliki  cukup air dan suhu udara cukup hangat. Adapun suhu udara untuk lahan rawa adalah 26 sampai 34º C dengan  kelembapan lebih dari 80% dan intensitas penyinaran 5 jam/hari. Produksi padi  di dunia menempati urutan ketiga dari   semua  serealia setelah   jagung   dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
2.6.2.   Klasisfikasi Tanaman Padi

Berdasarkan taksonominya   maka klasifikasi ilmiah dari tanaman padi dapat dilihat sebagai berikut (Wikipedia Indonesia, 2006):
Kingdom         :  Plantae

Divisi                    :  Spermathophyta
 Kelas              :  Angiospermae
 Sub kelas        : Monocotyledone
 Ordo               : Graminales
 Famili              :  Graminacae
Sub famili         :  Oryzidae

Genus              :  Oryza

Spesies             :  Oryza sativa L.

2.6.3.  Morfologi Tanaman Padi

Menurut  Aksi  Agraris  Kanisius  (2004)  dan  Wikipedia  Indonesia  (2006), padi  merupakan  tanaman  dengan  ciri-ciri                                yaitu  berakar  serabut,  batang  beruas- ruas  dengan  panjang  batang  yang  berbeda-beda,  daun  berbentuk  lanset  (sempit memanjang),  urat  daun  sejajar,  memiliki  pelepah,  sisik  dan  telinga  daun,  anakan tumbuh pada dasar batang, bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga  berupa  floret  (floret  tersusun  dalam  spikelet  atau  bunga  padi),  dan  yang terakhir buah dan biji sulit untuk dibedakan karena berupa bulir atau kariopsis.
2.6.4.  Jenis-jenis Tanaman Padi

Menurut  sifat,  cara  dan  tempat  bertanam,  tanaman  padi  dapat  dibedakan

(Aksi Agraris Kanisius, 2004):

1.   Padi Ladang

Padi ladang adalah padi yang ditanam pada tanah hutan yang baru dibuka.

2.   Padi Sawah

Padi sawah adalah padi yang ditanam dengan pengairan sepanjang musim atau setiap saat.
3.   Padi Gogo

Padi  gogo  adalah  padi  yang  ditanam  pada  tanah  tegalan  atau  tanah  kering secara menetap.
4.   Padi Gogorancah

Padi gogorancah adalah padi yang ditanam pada tanah sawah atau tanah tadah hujan.
5.   Padi Lebak

Padi lebak  adalah  padi yang  ditanam didaerah  rawa  yang rendah,  lahan akan tergenang air pada musim hujan sedangkan pada musim panas akan kering.
6.   Padi pasang Surut

Padi  pasang  surut  adalah  padi  yang  ditanam di daerah  pasang  surut,  dimana keadaan airnya dipengaruhi pasang surutnya air sungai atau laut.
2.6.5. Usahatani Padi Sawah       
 Produktivitas usahatani khususnya padi sawah dapat ditingkatkan semaksimal mungkin, dengan cara melaksanakan sistem yang dianjurkan kepada petani, yaitu:
1.      Cara bercocok tanam
Langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam bercocok tanam padi sawah, yaitu :
a.       Pengolahan tanah, dapat dilakukan dengan membajak atau mencangkul. Tujuan pengolahan tanah adalah untuk memperbaiki tata udara tanah sehingga menghasilkan suatu tempat tumbuh yang baik bagi padi sawah, mengendalikan gulma, dan meratakan permukaan tanah sehingga air mudah diatur. (Aksi Agraris Kanisius, 2006).
b.      Persemaian, harus disiapkan sebaik-baiknya agar diperoleh bibit yang baik dan sehat. Tujuan persemaian adalah memberikan keadaan lingkungan yang baik untuk perkembangan dan awal bagi tanaman padi.
c.       Jarak tanam, perlu diatur supaya tidak terjadi persaingan dalam hal mendapatkan unsur hara, sinar matahari, dan memudahkan penyiangan. Jarak tanam bujur sangkar, yaitu 20 x 20 cm dan 25 x 25 cm, tetapi jarak tanam yang mudah digunakan masih tergantung pada varietas, kesuburan tanah dan musim (Aksi Agraris Kanisius,2006).
d.      Jumlah bibit biasanya dua atau tiga bibit per lubang dan dengan kedalaman sekitar 3 cm.
e.       Penyiangan, bertujuan agar tanaman utama bebas dari gulma. Sebelum penyiangan, air dipetakan dan lubang pemasukan serta pengeluaran harus ditutup. Menurut Aksi Agraris Kanisius (2006), penyiangan mekanis sebelum tanaman berumur 30 hari setelah tanam dan penyiangan kedua pada umur 55 hari setelah tanam.
f.          Penyulaman, bertujuan agar populasi tanaman per satuan luas tanam tidak berkurang dengan mengganti rumpun-rumpun yang mati dan dilakukan 5-7 hari setelah tanam.
2.      Penggunaan Varietas Unggul
Varietas unggul adalah varietas yang bersifat genetiknya dapat memberikan hasil yang tinggi per satuan luas dan waktu. Varietas unggul padi ini mempunyai sifat-sifat seperti daya hasil tinggi, berumur pendek, tahan terhadap hama dan penyakit. Selain itu juga memenuhi selera petani seperti mutunya baik, rasanya enak, tidak mudah rontok, dan mudah perawatannya (Aksi Agraris Kanisius, 2006).
3.       Pengairan (irigasi)
         Menurut Aksi Agraris Kanisius (2006), pengaturan pemberian air pada tanaman padi sawah, yaitu :
a.     Awal pertumbuhan
 Setelah bibit padi ditanam, petakan sawah diairi sedikit demi sedikit,  sehingga air mencapai 2-3 cm dari permukaan tanah.
b.     Pembentukan anakan (pertunasan)
      Pada masa pertunasan, genangan air dipertahankan setinggi 3-5 cm. Pengairan yang lebih tinggi dari 5 cm dapat menghambat pembentukan anakan (tunas),
c.     Pembentukan tunas bulir
 Air sangat dibutuhkan pada masa pembentukan calon-calon bulir, karena pada periode ini petakan-petakan sawah perlu banyak dialiri setinggi 10 cm karena kekurangan air pada masa ini akan mengganggu pembentukkan malai, pembungaan, dan pembuahan.
d.    Pembuangan
 Pada masa ini kebutuhan air mencapai puncaknya, sebab bila kekurangan air akan terjadi kehampaan. Supaya pembungaan bisa serempak, maka sebelum berbunga diberi air secukupnya, agar bisa menghisap zat-zat makanan dan air sebanyak-banyaknya yang sangat diperlukan dalam menyelesaikan masa pembungaan tersebut.
4.       Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan cara disebar pada permukaan sawah dan diinjak-injak. Kedalam air pada saat pemupukan dalam keadaan macak-macak dan semua saluran ditutup. Kemudian sawah boleh diairi kembali setelah 2-4 hari dari waktu pemberian pupuk (Aksi Agraris Kanisius, 2006). Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat hara pada tanah guna menyumbang bahan makanan bagi tanaman (Siregar,1981).
5.       Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama yang dianjurkan adalah pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Hama yang biasa menyerang tanaman padi adalah serangga, tungau, siput, tikus, sedangkan penyakit yang umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan nematoda. (Djafarudin,2006).
6.       Panen
Pemanenan dilakukan apabila bulir-bulir padi sudah masak dengan cara memotong malainya. Kemudian gabah dikeringkan untuk meningkatkan kualitas gabah. Gabah yang kering perlu dipisahkan dari bulir yang mentah dan kotoran-kotoran yang tercampur selama perontokan dan pengeringan seperti daun dan tangkai padi. Akhirnya dilakukan penyimpanan gabah yang merupakan langkah untuk menunggu saat yang tepat untuk dijual atau digiling (Aksi Agraris Kanisius, 2006).
         Salah satu pengolahan pasca panen yaitu penggilingan padi. Penggilingan padi adalah usaha yang digerakkan dengan tenaga mesin dan ditujukan serta digerakkan untuk mengolah padi atau gabah menjadi beras putih (sosoh). Pengolahan padi merupakan pekerjaaan yang sukar bila dilakukan dengan tangan. Pengolahan padi ini memerlukan kegiatan-kegiatan yang kolektif dan terpusat. Maka dari itu, untuk memperkecil kerugian pada waktu panen dan pasca panen, efisiensi dalam tiap-tiap langkah pengeringan, perontokan, penggilingan, dan penyimpanan harus ditingkatkan (Aksi Agraris Kanisius,2006).
         Keadaan alami sebelum digiling, kebanyakan butir gabah padi-padian mempunyai sturktur dan nilai gizi yang sebanding. Teknik penggilingan seringkali sangat bervariasi dari suatu tempat ke tempat yang lain. Pada suatu daerah, petani menggunakan cara tradisional dan menggunakan mesin perontok. ini menyebabkan adanya variasi dalam kandungan zat gizi dalam pangan hasil penggilingan (Aksi Agraris Kanisius,200^).
2.7. Beras Sebagai Bahan Pokok
Bahan makanan pokok bagi rakyat indonesia terdiri dari jagung, sagu, singkong, gandum, dan beras. Kesemua jenis bahan makanan pokok ini merupakan komoditas sumber karbohidrat yang dihasilkan oleh pertanian rakyat. Tidak ada satu pun perusahaan besar yang ikut memproduksi komoditas tersebut. Oleh karena itu jumlah produksi dari komoditas tersebut tidak pernah mencukupi kebutuhan nasional. Dilihat dari segi kebutuhannya, komoditas tersebut dapat dipisah menjadi dua golongan yaitu komoditas superior dan inferior. Beras dianggap komoditas superior, sedangkan komoditas yang lain seperti jagung, sagu, singkong, dan gandum dianggap sebagai komoditas inferior meskipun dari segi gizi tidak jauh berbeda maka akhirnya semua penduduk yang awal pemakan makanan-makanan tersebut beralih ke beras.
Beras merupakang golongan biji padi-padian yang sudah banyak dibudidayakan diindonesia. Sedang jaman dulu padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan karbohirat yang cukup baik bagi manusia, sebab didalamnya terkandung bahan-bahan yang mudah diubah menjadi energi, oleh karena itu padi disebut juga sebagai makan energi.
Beras memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa indonesia sebagai bahan makana pokok utama, beras di konsumsi lebih dari  96,87% rakyat ini, bahkan sebagian besar bangsa Asia memilih komoditi beras sebagai bahan makanan pokoknya (Pranolo, 2000).
Di Indonesia posisi beras dalam konsumsi rumah tangga sangat menonjol. Pengeluaran untuk membeli beras rata-rata sebesar 25 % dari pengeluaran total rumah tangga. Sebagai sumber kalori utama bagi sebagian besar rakyat indonesia, beras memiliki pangsa 57% dari total konsumsi kalori, demikian pula dengan konsumsi protein, beras merupakan sumber protein yang penting, lebih dari 40% pemasukan protein disumbang melalui beras (Amang,1994).
Menurut Soemartono (1983), dari 100 gr beras pecah kulitnya mengandung 345 kalori, 8 gr kadar protein, 2,5 kadar lemak, 75 gr kadar tepung dan ada sedikit vitamin dan mineral. Disamping itu beras yang baik ditentukan oleh banyaknya beras yang utuh, jumlah kotoran, banyaknya batu, banyaknya beras yang belum terkelupas, kadar air, dan banyaknya butir mengapur. Persyaratan kualitas beras pengadaan dalam negeri terdiri dari:
1.      Bebas dari hama penyakit
2.      Bebas bau apek, asam, atau bau-bau asing lainnya
3.      Bersih dari campuran dedak.
4.      Baik secara visual maupun organoleptik.






































III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Pemikiran
            Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa penawaran adalah jumlah komoditas atau output baik berupa barang atau jasa  yang akan dijual oleh produsen kepada konsumen adapun fungsi penawarannya adalah persamaan yang menghubungkan antara jumlah barang yang ditawarkan dengan semua faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor intern seperti; umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas lahan ditanami dan faktor ekstern seperti; ketersediaan saprodi, harga beras, dan harga benih
            Kegiatan usahatani memerlukan faktor produksi. Faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan usahatani antara lain lahan, tenaga kerja, dan modal. Petani harus mengeluarkan biaya memperoleh faktor produksi tersebut. Penerimaan diperoleh dari penjualan hasil produksi. Hasil usahatani dapat diketahui dari tinggi rendahnya keuntungan usahatani. Keuntungan usahatani ditentukan dengan cara mengurangi penerimaan usahatani dengan biaya produksi yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani tersebut. Tinggi rendahnya keuntungan usaha tani tergantung dari penggunaan faktor produksi petani makin tinggi penggunaan faktor produksi (input) makan makin besar pula jumlah produksi dan secara tidak langsung pendapatan akan meningkat, tetapi juga harus dingat bahwa penggunaan faktor produksi yang berlebihan bisa jadi berdampak pada penawaran hasil dan menyebabkan usaha tani tidak efisien.

 





















Gambar 1. Kerangka pemikiran




3.2. Hipotesis
Hipotesis yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah diduga umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas tanam dan harga beras berpengaruh terhadap penawaran beras di Dusun Girirejo Kelurahan Lempake  Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda.




































IV. METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober  2009 dengan lokasi penelitian penelitian di Dusun Girirejo Kelurahan Lempake Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda.
4.2. Definisi Variabel dan Pengukurannya
Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jelas mengenai apa yang diteliti, maka diberikan uraian variabel yang diteliti, cara pengukuran dan satuan yang digunakan sebagai berikut:
1.        Responden adalah para petani padi sawah yang berada di lokasi penelitian.
2.        Produksi adalah hasil dari keseluruhan usaha pertanian padi sawah (kg ha-1)
3.        Penawaran beras ditingkat Petani adalah jumlah beras yang ditawarkan  ke pasar pada berbagai kemungkinan tingkat harga (kg).
4.        Faktor-faktor penawaran beras adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran beras yaitu, umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas tanam, dan harga beras.
5.        Harga beras adalah harga beras kontrak yang berlaku di lokasi penelitian. (Rp kg-1)
6.        Harga benih padi adalah harga benih padi kontrak yang digunakan petani (Rp kg-1)
7.        Biaya produksi adalah biaya total tetap dan biaya total tidak tetap yang meliputi:
a.    Biaya penyusutan alat dengan cara menghitung harga pembelian dibagi dengan umur teknis alat yang bersangkutan (Hernanto,1989) (Rp).
b.    Biaya sarana produksi yang meliputi harga benih padi , harga pupuk, harga pestisida (Rp).
c.       Biaya tenaga kerja keluarga maupun upahan yang dihitung menurut sistem upah yang berlaku di Dusun Girirejo kelurahan Lempake  Kota Samarinda, yaitu dikonversikan atau disetarakan dengan tenaga kerja pria dewasa yang menurut Soekartawi (1986), adalah:
                                    1 HOK wanita                        = 0,8 HOK Pria
                                    1 HOK anak-anak       = 0,5 HOK Pria
8.        Penerimaan adalah penerimaan yang diperoleh petani dari hasil penjualan produk (Rp).
9.        Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan biaya produksi berupa biaya sarana produksi, biaya penyusutan alat dan biaya tenaga kerja (Rp).

4.3. Metode Pengambilan Data
Data yang diperlukan untuk penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan langsung dan mengadakan wawancara terhadap responden dengan menggunakan kuisoner yang telah disusun dengan tujuan penelitian.



4.4. Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel di tingkat petani dilakukan dengan metode acak sederhana (Simple Random Sampling). Di Dusun Girirejo terdapat 155 petani yang melakukan usahatani padi sawah dan dari populasi tersebut didapatkan sebanyak 34 sampel. Untuk menghitung besarnya sampel digunakan rumus yang dikemukakan oleh Rakhmat (1997) sebagai berikut :
                                                 n =      N
N (d2) +1
keterangan :
n    =    jumlah sampel/petani responden keseluruhan;
N   =    jumlah populasi/petani padi sawah keseluruhan;
d2 =     presisi (Tingkat kesalahan)
Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel dari petani padi sawah di Dusun Girirejo adalah :
                                                           = 34 petani sampel
          Tingkat presisi yang digunakan penulis sebesar 15% berdasarkan:
  1. Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga, dan dana.
  2. Sempitnya luas wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal menyangkut banyak sedikitnya datad
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung petani. 
            Adapun jumlah kelompok tani yang mengusahakan tanaman padi berjumlah 8 kelompok tani, sehingga dari hasil perhitungan kemudian distratifikasi berdasarkan jumlah kelompok tani yang akan dijadikan sampel dalam penelitian. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah sampel responden usahatani beras Dusun Girirejo Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda.
No.
Kelompok tani
Jumlah
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
Panca Setia
Panca Usaha
Panca Karya
Tunas Muda
Unggul
Maju
Makmur
Bina Usaha
39
19
17
21
13
13
16
17
8
4
4
5
3
3
3
4
Jumlah
155
34
Sumber : Data Sekunder (diolah)
4.5.   Metode Analisis Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis, dibahas dan ditarik kesimpulan. Menurut Boediono (1985), untuk mengetahui besarnya keuntungan (Profit) petani padi sawah responden, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
                                                π = TR – TC
dimana :          π      =    Keuntungan (Profit) yang diperoleh dalam suatu unit  satuan   produksi.
                 TR   =    Total Revenue atau penerimaan total produsen dari hasil penjualan outputnya, yaitu produksi (Q) x harga jual (P)
                 TC   =    Total Cost atau biaya total adalah penjumlahan baik dari biaya tetap (TFC) maupun biaya tidak tetap (TVC)
Maka rumus diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
                 π = (P.Q) – (TFC + TVC)
Untuk mengetahui apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak dipakai nilai R/C (Hernanto, 1996) yaitu:
                                     =
dimana:  =  Revenue cost Rasio atau Pendapatan
TR = Total Revenue atau jumlah penerimaan yang didapat dari produksi di kali harga
            TC = Total Cost atau jumlah biaya produksi
Kriteria Pengujian :
Bila R/C > 1, berarti dapat dikatakan usaha itu menguntungkan.
Dan bila R/C ≤ 1, berarti dapat dikatakan usaha tersebut tidak mendapat keuntungan (Soeharjo dan Patong, 1984).
Analisis data yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penawaran beras baik faktor intern dan ekstern yaitu menggunakan analisis regresi linear berganda.
Menurut Supranto (1994), model regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
                       
Keterangan :
        = Produksi Beras
X1        = Umur Petani
X2        = Pengalaman Petani
X3        = Jumlah Tanggungan Petani
X4        = Luas lahan yang di tanami
X5        = Harga Beras
b0         = Koefisien intersef
b1- b5   = Koefisien regresi
εi         = Epsilon
Menurut Hadi (2004), untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (penawaran beras) maka dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji F melalui tabel sidik ragam, sebagai berikut:
Tabel 1. Sidik Ragam
Sumber Keragaman
Db
Jumlah Kuadrat
Kuadrat Tengah
F hitung
Regresi
Sisa 
k
n-k-1
JKR
JKS
KTR
KTS
KTR/KTS
Total
n-1
JKT



Keterangan:
k                      : Banyaknya Variabel
n                      : Jumlah Sampel
JKR                 : Jumlah Kuadrat Regresi
JKS                 : Jumlah Kuadrat Total
KTR                : Kuadrat Tengah Regresi
KTS                 : Kuadrat Tengah Sisa 
Keterangan:
KTR: Kuadrat Tengah Regresi
KTS: Kuadrat Tengah Sisa
Dengan hipotesis:
H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = 0
Ha : tidak semua sama (setidaknya ada bi ≠ 0)
Kaidah keputusan:
1.        Bila F hitung > F tabel (α= 0,05), maka H0 ditolak Ha diterima berarti umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas tanam, harga beras secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap penawaran beras.
2.        Bila F hitung < F tabel (α= 0,05), maka H0 diterima Ha ditolak berarti umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas tanam, harga beras secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap penawaran beras.
Menurut Hadi (2004), untuk mengetahui besarnya kontribusi (share) dari Variabel bebas (X) terhadap Variasi baik turunnya variabel tidak bebas (Y) dihitung koefisien determinasi dengan rumus:

Keterangan :
R2        : Koefisien Determinasi
JKR     : Jumlah Kuadrat Regresi
JKT     : Jumlah Kuadrat Total
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas (X) terhadap variabel tidak bebas (Y) dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t, sebagai berikut:
             ; dimana
Keterangan :
bi                     : Koefisien regresi untuk  b1, b2, b3, b4, b5
Se (bi)              : Standar error untuk b1, b2, b3, b4, b5
Se                    : Standar error
Hipotesis:
H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5
Ha : bi ≠ 0
Kaidah keputusan :
1.        Bila t hitung ≤ t tabel , maka H0 diterima Ha ditolak berarti umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani, luas tanam, harga beras tidak berpengaruh nyata terhadap penawaran beras.
2.        Bila t hitung ≥ t tabel, maka H0 ditolak Ha diterima berarti umur petani, pengalaman petani, jumlah tanggungan petani,luas tanam, harga beras berpengaruh nyata terhadap penawaran beras.
DAFTAR PUSTAKA


Aksi Agraris Kanisius. 1991. Dasar-dasar Bercocok Tanam. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Aksi Agraris Kanisius. 2004. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Alihamsyah, T. 2003. Potensi dan Pendayagunaan Lahan Rawa untuk Peningkatan Produksi Padi. Hlm. 327-346. Dalam Faisal Kasryno, dkk (peny.). Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Boediono. 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi No. 1 (Ekonomi Mikro). BPFE, Yogyakarta.

BPS. 2006. Kalimantan Dalam Angka 2006. Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur, Samarinda.

BPTP Kalimantan Timur. 2006. Budidaya Padi Pada Lahan Pasang Surut. http://bp2tp.deptan.go.id/file/kaltim1.pdf. 10 December 2006.

Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Dinas Pertanian dan Peternakan. 2006. Identifikasi Kampung Penghasil Padi dan Palawija. Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Berau, Tanjung Redeb.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 2006. Data Penggunaan Lahan Kalimantan Timur, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kaltim, Samarinda.

Hernanto, F. 1995. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta.

Jumin, H. B. 1991. Dasar-dasar Agronomi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Kantor Desa Bebanir Bangun. 2006. Monografi dan Profil Desa Bebanir Bangun. Desa Bebanir Bangun Kec. Sambaliung, Kabupaten Berau, Tanjung Redeb.

Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya. 1995. Budidaya Padi Sawah Tanpa Olah Tanah. Balai Informasi Pertanian Irian Jaya, Jayapura.

Lingga, P. dan Marsono. 2002. Petunjuk Pennggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.

Litbang Deptan. 2006. Prospek dan Arah Pengembangan Agriisnis Padi. http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/files/0104.PADI.pdf. 10 December 2006.

Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT. Pustaka LP3ES, Jakarta.

Nappu, B., dkk. 2003. Analisis Kebijakan Strategis dalam Mendukung Sistem Usahatani Berkelanjutan di Lahan Pasang Surut Sebakung Kalimantan Timur. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 6:81-94.

Nasution. 1996. Metode Research (Penelitian Ilmiah). PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Noor, M. 1996. Padi Lahan Marjinal. Penebar Swadaya, Jakarta.

Novizan. 2002. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Agromedia Pustaka, Jakarta

Prihmantoro, H. 2001. Memupuk Tanaman Buah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rosyidi, S. 2001. Pengantar Teori Ekonomi (Pendekatan kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soekartawi, dkk. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Penerbit UI Press, Jakarta.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian (Teori dan Aplikasi). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soekartawi. 2005. Agribisnis (Teori dan Aplikasinya). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Suastika, I. , Basaruddin, N. dan Tumarlan, T. 1997. Budi Daya Padi Sawah di Lahan Pasang Surut. http://www.pustaka.deptan.go.id/agritech/isdp0105.pdf. 10 December 2006.

Sudarmo, S. 2003. Pestisida untuk Tanaman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sukirno, S. 2002. Pengantar Teori Mikroekonomi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sutedjo, M.M., dan A.G. Karasapoetra. 1988. Budidaya Tanaman Padi di Lahan Pasang Surut. Bina Aksara, Jakarta.

Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Widodo, H.S.T. 1991. Indikator Ekonomi Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia. Kanisius, Yogyakarta.

Wikipedia Indonesia. 2006. Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia. http://www.id.wikipedia.org/wiki/padi. 18 February 2006.

Wudianto, R. 2005. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta.













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar